Follow Us @soratemplates

Wednesday, 3 February 2016

Kisah yang Belum Berakhir

Sejak awal, zaman dulu kala, saat cinta masih bertahan di peringkat satu, lahirlah kepingan pertama.

Bentuknya persegi, berwarna merah marun dengan hiasan bergambar hati ditengahnya. Indah, berpendar terang di setiap petang yang mulai datang mengisi daftar hadirnya.
Dia tidak peduli, walaupun Bulan Purnama Besar merajai malam, dia pun setia pada cahayanya, tak putus asa dia mencari kekuatan untuk menemani malam melewati masanya, dan dengan ketegaran hatinya dia teguh berdiri di tengah, bersiap memimpin IMPIAN.

Lalu, setahun berjalan.
Semakin banyak kepingan yang lahir. Bentuknya beragam, ada yang bulat, segitiga, jajaran genjang sampai trapesium dengan berbagai warna, menemani cahaya merah menjadi berpelangi. Perlahan terlihat Kepingan Pertama, Gagah di tengah-tengah, bagai Raja yang disenangi anak buahnya. Dengan tetap bercahaya merah menyala, diapun bergeser hilir mudik mengawasi kepingan lain bertambah, tumbuh ke atas, membentuk HARAPAN.

Kemudian, Tahun Berikutnya.
Semua kepingan bergembira, akhirnya mereka bisa bersatu, bersama-sama membentuk Bangunan Megah bertingkat 3. Lantai dan perabot dari porselen berwarna putih, bersih, serta menyebarkan wangi harum yang semerbak di setiap sudut ruangan.
Kepingan Pertama tinggal di tingkat paling atas, dia merasa cemas, khawatir akan bangunannya yang masih belum juga kokoh, guncangan sedikit pasti akan merobohkannya. Tak berapa lama, mata Keping Pertama pun terlihat berbinar. Di tangkupkan tangannya, merunduklah dia, dan memanjatkan DOA.

Tak menunggu lama, Bangunan Megah tersebut berubah menjadi Istana yang Hampir Sempurna. Keping Pertama tersenyum, sambil dalam hatinya bersyukur, sudah cukup baginya apa yang dia inginkan, telah terpenuhi. Saatnya untuk menjaga apa yang sudah dimilikinya ini, sehingga akan lengkaplah hidupnya.

Hari berganti hari, tak terasa Istana miliknya semakin tua. Keping pertama pun makin bertambah usianya, cahaya merahnya perlahan mulai redup. Gambar hatinya mulai kusam sebelah, namun sebelahnya lagi masih saja memancarkan cahaya merah yang kuat. Semakin redup yang kanan, maka semakin berusaha lah yang kiri untuk membagi cahayanya.

Keping pertama sudah tak seperti yang dulu lagi. Kurangnya cahaya merah, seringkali membuat jalannya tak seimbang lagi. Keping sebelah kanan sudah tak perduli lagi, pikirnya dia tak akan bisa kembali bercahaya merah seperti dulu. Keping sebelah kiri akhirnya kecewa, apapun yang sudah dia lakukan untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya pasti tak akan dianggap lagi.
Maka, menangislah Keping Sebelah Kiri, merenung, dan menunduk ia, setiap kali keping lain bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya.

Karena keduanya telah redup, Istana pun tak seindah sebelumnya. Warna jingga lebih terlihat ke merah, warna hijau perlahan berubah coklat, belum lagi dinding dalam Istana berkerak, mulai banyak sarang laba-laba mendiami langit-langitnya, serta bau pengap menguap dari tiap ruangannya. Istana Megah berubah nama menjadi Istana Lusuh.

Sungguh, Keping Pertama tak ada di tingkat paling atas lagi. Istana mulai rentan dindingnya, satu per satu kepingan terlepas dari yang lain. Dan wuush! Tingkat 3 hilang begitu saja.
Keesokannya, giliran Tingkat 2, Keping pertama menyaksikan jatuhnya pegangan keping-keping pilihannya, sehingga tak bisa disebut Istana lagi, bangunan itu.

Dan begitulah,
IMPIAN yang dia Bangun, dan
HARAPAN yang dia Bentuk dengan susah payah,
Saat ini Runtuh seketika,
Menyisakan lantai dasar, dengan Kepingan Pertama disana, duduk pas di sudut utara bangunan itu, berusaha menangkupkan tangan dan menunduk kembali, meminta Keajaiban DOA terulang lagi.

"Semoga Ini Bukan Akhir cerita"

No comments:

Post a Comment